Pernyataan Imam Syafi’i untuk mengikuti Sunnah Nabi

Perkataan Imam asy Syafii

Pernyataan-pernyataan Imam asy-Syafi’I untuk mengikuti As-Sunnah dan meninggalkan pendapat mereka yang menyelisihi As-Sunnah:

“Tidak ada seorangpun, kecuali dia harus bermazhab dengan sunnah Rasulullah dan mengikutinya. Adapun yang saya ucapkan atau saya tetapkan tentang sebuah kaidah dasar sedangkan sunnah Rasulullah bertentangan dengan ucapanku, maka yang diambil adalah sabda Rasulullah, dan pendapatku juga seperti itu”.[HR. Hakim dengan sanadnya sampai kepada Syafi’I sebagaimana di dalam Taraikh Dimasyq oleh ibnu Asakir, (15/1/3), I’lamu AlMuwaqi’in (2/363-364) dan Al-Iqazh (hal.100)].

“Kaum Muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan Sunnah tersebut, hanya karena ingin mengikuti parkataan seseorang.”[Ibnu al-Qayyim (2/361) dan al-Fullani (hal.68)].

“Apabila kalian mendapatkan di kitabku sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah, maka jadikanlah Sunnah Rasulullah sebagai dasar pendapat kalian dan tinggalkanlah apa yang aku katakana”.[Al-Harawi di kitab Dzammu Al-Kalam (3/47/1), al-Khatib di kitab Al-ihtijaj bi Asy-syafi’I (8/2), Ibnu Asakir (15/9/1), An-Nawawi di kitab Al-Majmu’ (1/63), Ibnu Al-Qayyim (2/361) dan Al Fullani (hal.100)].

“Apabila hadist itu shahih, maka dia adalah Mazhabku”.[An-Nawawi di kitab Al-Majmu, Asy-Sya’rani (1/57) dan beliau sandarkan kepada Hakim, Baihaqi, dan al Fullani (hal.107)].

“Engkau (ucapan ini ditujukan kepada Imam Ahmad-) lebih tau dariku tentang hadist dan orang-orangnya (Rijalul hadist). Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun adanya, baik ia dari Kufah, Basrah, maupun syam. Apabila ia shahih, aku akan bermazhab dengannya”.[ Ibnu Abi Hatim meriwayatkannya dalam Adab Asy-Syafi’I (hal. 94-95), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (9/106), Al-Khatib dalam Al-Ihtijaj bisy-Syafi’I (8/1), Ibnu Asakir dari jalan Al-Khatib (15/9/1), Ibnu Abdil Barr dalam Al-Intiqa (hal.75), Ibnu Jauzi dalam Manaqib Imam Ahmad (hal.499) dan Al-Harawi (2/47/2)].

“Setiap masalah yang shahih dari Rasulullah bagi ahlu Naqli dan bertentangan dengan apa yang aku katakana, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku mati”.[Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (9/107), Al-Harawi (47/1), Ibnu Al-Qayyim di kitab I’lamu Al Muwaqi’in (2/363), dan Al-Fullani (hal.104)

“Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist Nabi yang shahih bertentangan dengannya, maka ketahuilah, sesungguhnya akalku telah bermazhab dengannya”.[HR. Ibnu Abi Hatim di kitab Adab Asy-Syafi’I (hal.93), dan Abu Al-Qasim As-Samarqandi di kitab Al-Amali]

“Apapun yang aku katakan, kemudian terdapat hadist Shahih dari Nabi yang bertentangan dengan perkataanku, maka Hadist Nabi adalah lebih utama. Olehnya, janganlah kalian taklid padaku”.[Ibnu Abi Hatim (hal.93), Abu Nu’aim, dan Ibnu Asakir (15/9/2) dengan sanad Shahih.

Setiap Hadist dari Nabi, maka dia adalah pendapatku, walaupun kalian belum pernah mendengarnya dariku”.[Ibnu Abi Hatim (hal.93-94)

Sumber: Kitab Sifat Shalat Nabi Edisi Lengkap Jilid 1, Muhammad Nashiruddin Al-albani, Griya Ilmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: